Alasan Mengapa Perjudian Pernah Legal di Jakarta?

1 min read

Alasan Mengapa Perjudian Pernah Legal di Jakarta?

Fakta legalitas perjudian di Jakarta tidak lepas dari lesunya perekonomian Indonesia dari tahun 1965 hingga 1966. Pertama, Presiden Soekarno menunjuk Ali Sadikin menggantikan Gubernur Soemarno Sosroatmodjo. Prioritas utama gubernur baru adalah pembangunan. Ia menerjemahkan visi Soekarno untuk menjadikan Jakarta kota metropolis. 

Namun, master plan tersebut bertabrakan dengan APBD DKI Jakarta yang relatif kecil dan hanya berjumlah Rp 66 juta. Jumlah tersebut hanya cukup untuk membayar gaji karyawan. Untuk alasan pengembangan, Ali telah mengidentifikasi sumber pajak baru dan membuat pengelolaan pajak yang ada menjadi lebih efisien.

Ali melihat perjudian berkembang pesat di Jakarta di bawah perlindungan sejumlah pejabat dan anggota militer. Jadi dia mengambil langkah kontroversial: menciptakan sumber pendapatan baru bagi pemerintah kota dengan melegalkan dan mengenakan pajak perjudian.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1957 tentang Peraturan Pajak Daerah, Ali mengesahkan praktek perjudian di Jakarta. Hasilnya: APBD Jakarta meningkat signifikan. Pajak perjudian ini termasuk dalam pendapatan khusus dan digunakan untuk rehabilitasi dan pembangunan daerah.

Legalisasi perjudian bukan tanpa kendala. Hal itu terutama ditolak oleh kelompok politik Islam dan personel militer.

Baca juga: Dampak Togel Pada Masyarakat

Judi di Zaman Penjajahan Belanda

Jika Anda ingin mengunjungi kembali kawasan judi Jakarta, Anda tidak boleh jauh dari Pecinan. Judi adalah bagian dari budaya Tiongkok. Ini dipandang sebagai cara yang bagus untuk menguji keberuntungan Anda, terutama pada hari-hari libur seperti Tahun Baru Imlek, dan menyingkirkan kesialan.

Kawasan Taman Sari yang telah menjadi pecinan sejak zaman kolonial dulunya merupakan pusat perjudian yang cukup besar. Langkah ini diambil oleh pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan simpanan dari warga etnis Tionghoa yang sering bermain.

Di buku Willard A. Hanna Hikayat Jakarta ada cerita tentang seorang pemain. Dia menghadiahi suaminya dengan selir sehingga dia bisa bermain dengan bebas. Benar atau tidak, sejarah dapat menggambarkan betapa terobsesinya orang-orang Tionghoa kolonial dengan perjudian, dan kesempatan ini dimanfaatkan oleh pemerintah kolonial untuk mencari persewaan.

Selain pajak perjudian, pemerintah Hindia Belanda juga telah memberlakukan pajak konsumsi alkohol bagi warga negara China. Selama ini kita bisa melihat betapa familiarnya kawasan Taman Sari, khususnya Jalan Mangga Besar, sebagai pusat kehidupan malam.

Zaman sekarang perjudian semakin pesat walaupun di Indonesia sendiri judi sekarang ilegal. Orang-orang banyak mengakses situs judi, seperti situs judi bola.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *